Saturday, 6 October 2012

Kenapa PSK ABG Makin Marak?

JAKARTA - Komnas Perlindungan Anak mencatat tiap tahunnya sekira 40 sampai 70 ribu anak Indonesia berusia rata-rata 18 tahun menjadi pekerja seks komersil (PSK). Menanggapi itu, anggota Komisi VIII DPR Ledia Hanifa, menyebutkan tiga faktor penyebab tingginya angka tersebut. Dia menjelaskan, kasus tersebut melanggar dua undang-undang yakni UU Perlindungan Anak dan UU Tindak Pidana Perdagangan Orang. Namun, domain besarnya adalah Undang-Undang Perdagangan Orang. "Biasanya, modus para pelaku kejahatannya adalah dengan mengiming-ngiming pekerjaan. Namun pekerjaan yang dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataan. Bahkan, pelaku terkadang memberikan iming-iming ke orang tua," katanya saat dihubungi Okezone, di Jakarta, Kamis (4/10/2012). Penyebab tingginya angka tersebut, sambungnya, lantaran implementasi Undang-Undang Perlindungan anak maupun Perdagangan Orang, minim terlaksana. Salah satu pemicunya, terbatasnya jumlah petugas yang menangani kasus terkait anak. "Di kepolisian ada Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak), namun jumlah petugasnya sangat terbatas. Bahkan ada polsek yang tidak memilik unit itu," ujarnya. Selain itu, kurangnya sosialisasi dua undang-undang tersebut menjadi penyebab ketidaktahuan masyarakat. Sehingga menyebabkan masyarakat abai ketika mengetahui adanya praktik penjualan orang di daerah mereka. "Misalnya di daerah Jawa Barat, Jawa Timur, yang merupakan lokasi terbanyak kasus perdagangan orang. Perlu dilakukan sosialisasi yang ekstra," tambahnya. Kesadaran masyarakat dan kurangnya pengetahuan remaja atas modus-modus yang digunakan pelaku juga menjadi penyebab banyak anak Indonesia menjadi korban perdagangan orang. "Lantaran sosialisasi yang masih kurang, kesadaran masyarakat juga kurang," tegasnya. Sebelumnya Ketua Komnas Perlindungan Anak Aris Merdeka Sirait, menyebutkan rata–rata perdagangan orang berujung menjadi PSK, merupakan sindikat. Diduga melibatkan banyak pihak, seperti imigrasi, tukang ojek, warung, pedagang, yang memungkinan adanya penyuapan. "Tidak perlu adanya regulasi UU karena memang sudah kuat. Tapi justru implementasi UU itu yang harus ditingkatkan," pungkas Ledia. (lam)

"Serbu" KPK, Polisi Berdalih Koordinasi

JAKARTA - Kabareskrim Mabes Polri Komisaris Jenderal Polisi Sutarman mengatakan alasan penyidik Polda Bengkulu mendatangi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hanya sekedar berkoordinasi. Prihal penangkapan Kompol Novel Baswedan, sejatinya bisa saja langsung dilakukan, namun pihaknya memilih cara yang lebih beretika. Mengingat penangkapan yang bersangkutan dalam sebuah institusi. "Kordinasi itu nomor satu, kita kalau mau tangkap seseorang di Lembaga harus dikordinasikan, jadi tadi malam itu sifatnya kordinasi. Belum mau menangkap kalau mau nangkap sebentar juga bisa ditangkap dan dari kordinasi itu akan melakukan penangkapan, syukur-syukur langsung diserahkan tapi ternyata ribut," ujar Sutarman dalam keterangan pers di Mabes polri, Jakarta, Sabtu(6/10/2012). Sutarman menjelaskan, apa yang dilakukan penyidiknya adalah murni tindakan penegakan hukum karena terjadinya suatu tindak pidana atau pelanggaran yang bulan Februari 2004 lalu. "Masalah seperti ini jangan dibawa ke masalah yang seolah-olah terjadi suatu benturan kepentingan antara KPK dengan Polri. Jangan dibawa seolah-olah ini melakukan kriminalisasi. Ini murni penegakan hukum," tegasnya. Pernyataan Kabareskrim ini disampaikan menyusul terjadi keributan antara puluhan polisi di Gedung KPK tadi malam. Mereka saling mempertahankan argumen masing-masing di lobi utama KPK sejak pukul 21.00 WIB. Selain polisi berbaju batik, puluhan pria berpakaian preman yang diduga polisi, juga berlalu-lalang di gedung KPK. Berdasarkan informasi, mereka hendak menjemput paksa penyidik Kepolisian yang memilih bertahan di KPK, salah satunya Kompol Novel Baswedan. Novel disebut-sebut tersangkut kasus penganiayaan yang menyebabkan seorang pencuri sarang walet meninggal dunia, saat dia menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Kota Bengkulu. (ded)

Diserbu Provost Polri, 5 Penyidik KPK Dijemput Malam Ini?

JAKARTA - Puluhan pria berpakaian preman yang diduga polisi terlihat berlalu-lalang di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah diperiksanya Inspektur Jenderal Polisi Djoko Susilo dalam kasus Simulator Surat Izin Mengemudi (SIM) Korps Lalu Lintas Kepolisian RI. Berdasarkan informasi, mereka hendak menjemput paksa penyidik Kepolisian RI yang memilih bertahan di KPK. "Mereka datang diperintahkan jemput lima penyidik," ujar salah seorang sumber, Jumat (5/10/2012) malam. Sementara itu, Juru bicara KPK, Johan Budi, mengaku belum dikonfirmasi oleh Kepolisian RI terkait penarikan paksa penyidiknya ini. "Kami belum menerima informasi yg valid mengenai apa benar ada penangkapan. Jadi kami akan koordinasi dahulu" kata Johan. Dari pantauan, dua mobil pun terparkir tepat di gedung KPK. Beberapa pria berpakaian polisi juga berdiri di sudut-sudut sekitar kantor KPK. Seperti diketahui, Kepolisian RI mengultimatum lima penyidik yang bertugas di KPK untuk segera melapor seiring dengan berakhirnya masa tugas mereka. Polri mengancam jemput paksa apabila masih membangkang. Sebanyak 20 penyidik Polri ditarik dari KPK karena dinyatakan habis masa tugasnya. Sebanyak 15 penyidik sudah melapor ke Mabes Polri, sedangkan sisanya masih bertahan di KPK karena ingin menjadi penyidik permanen.

Abraham Samad: Mari Kita Lawan Koruptor!

Abraham Samad: Mari Kita Lawan Koruptor! Mustholih - Okezone Sabtu, 06 Oktober 2012 02:16 wib
Abraham Samad (Foto: Heru Haryono/Okezone) JAKARTA - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samadmenyerukan kepada seluruh rakyat untuk bersatu memerangi korupsi sebagai bahaya laten negeri ini. Hal itu disampaikan Samad dihadapan puluhan penggiat antikorupsi yang menyambangi kantor KPK sejak Jumat malam. "Kita sudah saksikan secara bersama-sama apa yang terjadi pada hari ini. Ada sekumpulan orang-orang (Polisi) yang ingin menghabisi KPK oleh karena itu saya mengajak teman-teman untuk tetap bersatu padu melawan kezaliman orang-orang yang ingin menghabisi dan menghancurkan KPK," ujar Samad berapi-api di kantor KPK, Jakarta, Sabtu (6/10/2012). Dia pun atas nama segenap pimpinan KPK menyampaikan rasa terima kasih kepada publik yang telah setia dan konsisten dalam memerangi korupsi. "Saya atas nama pimpinan KPK menghargai apresiasi upaya-upaya, serta hal-hal dan kontribusi teman-teman dalam menegakkan KPK, dalam memberantas korupsi di negeri ini. Mari kita lawan koruptor!" tegasnya. (put)